Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengadakan sosialisasi Pedoman Dakwah Jumat (03/10) di Gedung MUI Pusat, Jakarta.
Sosialisasi ini merupakan langkah komisi dakwah MUI mengupayakan penyampaian Dai berjalan efektif dan memiliki efek besar.
“Adanya tansiqul harakah, bila kita bareng maka akan ada daya ledak yang luar biasa, ” ujar Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin saat memberi sambutan.
“Dakwah kita harus ditata aturannya agar impactnya tinggi, ” tambahnya.
Kiai Ma’ruf mencontohkan, efektifitas dakwah bisa dilihat dari kisah Rasulullah mengubah Arab jahiliyah menjadi amar ma’ruf nahi munkar. Selama dua puluh tiga tahun, Rasulullah sanggup mengubah itu karena dakwahnya yang efektif dan mengena di masyarakat ketika itu.
“Rasulullah mengubah masyarakat jahiliyah menjadi khoiru ummat hanya dua puluh tiga tahun, ” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi Dakwah MUI KH. Cholil Nafis memandang penting pedoman dakwah karena wajah Islam di Indonesia salah satunya bisa dilihat dari da’inya.
“Sosialisasi dari pedoman dakwah itu, bagaimana wajah islam digambarkan, di Indonesia citra Islam bergantung pada dainya, ” bebernya.
Ketua MUI Bidang Dakwah KH. Abdusshomad Buchori mengatakan serupa. Kiai Shomad juga menyebut bahwa pedoman dakwah merupakan hasil rakernas dan Munas MUI.
“MUI menerbitkan pedoman dakwah berangkat dari keputusan rakernas atau Munas MUI tentang Islam Wasathiyah, ” tuturnya.
“Ini baru sosialisasi yang pertama. Nanti kedua kami mengadakan halaqah dakwah nadional selama dua hari, ” pungkasnya.
Acara sosialisasi tersebut menghadirkan perwakilan lembaga dakwah ormas Islam, takmir masjid besar di Jakarta, serta Direktorat Penerangan Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI).