MAKKAH — Amirul Hajj Indonesia tahun ini dari MUI KH Masduki Baidlowi mengungkap pentingnya menjaga khauf (takut) dan raja’ (berharap) saat beribadah haji sehingga haji bisa menjadi mabrur.
Terkait haji mabrur ini, dalam ceramahnya di Padang Arafah Senin (21/08), Kiai Masduki bercerita tentang kisah seorang sufi yang sedang menjalankan ibadah haji.
Dikisahkannya, dahulu kala terdapat seorang sufi yang tertidur dan dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat saling bercengkrama. Malaikat pertama, sambil melihat jamaah haji yang jumlahnya 6000 orang, bertanya kepada malaikat kedua tentang berapa jamaah yang kira-kira bakal mabrur hajinya. Malaikat kedua menjawab, hanya enam orang dari enam ribu jamaah tersebut yang mabrur hajinya.
Dari kisah tersebut, Kiai Masduki mengingatkan bahwa ibadah haji yang mabrur sangat penting. Langkah jitu meraih haji yang mabrur, ungkapnya, adalah dengan beribadah sambil terus merasa takut yang disertai rasa penuh berharap.
“Ibadah haji itu membuat agar kita berada dalam kondisi arroja wal khauf, ” ungkapnya.
Khauf, dikatakannya, merupakan sebentuk ketakutan kalau ibadah yang sudah dilakukan ternyata tidak dikehendaki oleh Allah SWT. Sementara raja’, adalah kondisi untuk senantiasa berharap agar Allah menerima ibadah yang telah dilaksanakan. Perpaduan antara khauf dan raja’ ini mendorong jamaah haji untuk meraih kemabruran.
“Kita berada pada posisi optimis, kita berharap mendapatkan haji mabrur. Tapi pada posisi lain, kita harus juga merasa aman, harus merasa takut, karena banyak sekali hal hal dan godaan – godaan yang membuat kita tidak ikhlas, ” katanya.
Impelementasi khauf dan raja ini, lanjut Kiai Masduki, seperti saat seseorang menghadap raja. Perasaan diterima oleh raja atau tidak diterima, itulah yang harus diperhatikan.
“Suasana khauf dan raja harus ada senantiasa dalam hati kita.” ungkapnya. (Azhar/Din)